setiap kita ketemu,gadis kecil berkaleng kecil
senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
tengadah padaku,pada bulan merah jambu
tapi kotaku jadi hilang,tanpa jiwa
Puisi
Toto Sudarto Bachtiar “Gadis Peminta-minta”
Senyumnya
terlalu kekal untuk kenal duka, ya, mereka tidak seharusnya memikul beban berat
itu. Berjalan di antara lalu lalang kendaraan. Berharap ada yang memberi mereka
uang demi sesuap nasi dan angan-angan.
Keindahan
kota Karangasem seakan-akan merefleksikan pula kemakmuran penduduknya. Tapi
ternyata tidak, Karangasem masih menyimpan berbagai kisah pelik dunia
pendidikan. Data Dispendik Karangasem tahun lalu
menyatakan tidak kurang dari 600 orang anak putus sekolah dari jenjang SD
sampai SMA/SMK. Penyumbang angka putus sekolah tingkat SMP yang jumlahnya
mencapai tidak kurang dari 200 orang berasal dari Kecamatan Kubu. Bahkan
menurut Kabid Dikdasmen Dinas Pendidikan Karangasem Drs. I Ketut Sudana, M.Pd.,
lulusan SMP di Karangasem, ± 1.600 orang tidak melanjutkan ke jenjang SMA/SMK.
Sudana tak tahu alasannya.
“Menggepeng”
Menggepeng, masih menjadi pilihan utama warga
miskin Muntigunung dan Pedahan Karangasem yang tidak sekolah. Dua daerah ini
memang disinyalir menjadi sentral para penggepeng yang sebagian banyak ada di
daerah Denpasar. Daerah di bilangan Imam Bonjol Denpasar misalnya, menjadi
salah satu tempat berteduh para penggepeng-penggepeng tersebut.
Wayan
Karina (13) yang ditemui ketika sedang membeli makanan mengaku mengekos bersama
tiga saudaranya di kamar berukuran ± 3x3 m² dengan harga 325 ribu per bulan.
Harga yang cukup mahal rupanya untuk penghuni setingkat gepeng. “Kami ber-empat
iuran untuk membayar kos”, ujar anak Muntigunung ini.
Kemiskinan
masih menduduki peringkat pertama alasan mereka mengemis. Namun tidak hanya
itu, krisis air pun menjadikan mereka enggan berada di desa mereka sendiri. Merantaunya
mereka ke Denpasar dipelopori oleh satu orang dengan iming-iming mendapat
banyak uang. Sayang, orang ini sudah tidak diketahui keberadaannya semenjak Wayan
merasa bahwa dirinya dirugikan. Sekarang Wayan bersama ketiga saudaranya
“berdiri sendiri”. Gadis 13tahun ini sadar bahwa ia akan selalu
dibayang-bayangi oleh Tramtib. “Tapi saya tidak takut Tramtib, paling-paling
hanya dipulangkan ke daerah asal”, lanjut Wayan.
Gadis
berambut panjang ini termasuk pengemis paling tua di antara pengemis lainnya
yang tinggal di lokasi yang sama, karena usianya sudah menginjak 13 tahun.
Rata-rata pengemis yang tinggal di kawasan itu berusia 11-14 tahun.
“Orang tua saya tinggal di Munti.
Kadang juga menengok ke Denpasar, sesekali. Saya memiliki 4 saudara kandung,
dan 5 saudara tiri dari ibu tiri”, kata Wayan sembari tersenyum simpul. Banyak anak,
banyak rejeki; pepatah yang mungkin menjadi barometer keluarga Wayan. Kondisi
ibu Wayan yang katanya menderita patah tulang pun menjadi point penambah
sederet faktor mengapa mereka mengemis “berjama’ah”.
Wayan menambahkan bahwa daerah
operasi mereka adalah seputaran Tuban, bersama-sama naik angkot dan berpencar.
Hanya saja, jam “kerja” Wayan jauh lebih pagi dari adik-adiknya. Wayan
berangkat pada pukul 10 pagi, sedangkan adik-adiknya biasanya berangkat
meminta-minta mulai dari sepulang sekolah pukul 14.00.
Ingin Sekolah
Ternyata
dalam kondisi demikian pun, masih terbesit dalam benak mereka untuk mengenyam
bangku sekolah. Sayang, tidak adanya dukungan orang terdekat membuat mereka
mengurungkan niat untuk menikmati bangku sekolah formal, belum juga kendala
biaya yang dianggap berat. Beruntung, ada orang baik yang membuat sekolah
gratis di dekat tempat kos mereka, masih di bilangan Imam Bonjol Denpasar. Tiga
dari mereka bersekolah di sekolah gratis ini, kecuali Wayan, karena Wayan
merasa dirinya-lah yang paling bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup
ketiga adiknya.
Ketika
ditanyai perihal cita-cita, satu dari mereka Ketut Dina (11) berkata “aku ingin
jadi guru”. Ya, cita-cita mulia seorang gadis peminta-minta. Berbanding
terbalik dengan Wayan, gadis cantik berambut panjang ini sama sekali tidak
punya cita-cita. Kasian ya, bahkan dia pun tak mengerti nanti jadi apa.
“Tapi
tidak banyak yang sekolah disini, hanya beberapa, kurang lebih 10 orang. Susah
memang menyadarkan mereka akan pentingnya belajar”, ujar Bu Agus yang rumahnya
digunakan untuk sekolah gratis tersebut.
“Kalau
saya justru lebih prihatin dengan keadaan mereka yang rentan akan tindak
kejahatan. Profesi saya guide, jadi
saya tahu betul seluk beluk kawasan Kuta. Ketika ada sekolah gratis pun
harusnya juga memiliki pengajar yang berkompeten. Jadi mereka bisa enjoy
belajarnya”, ujar Jimmy, anak Bu Agus.
Ternyata
memang banyak faktor yang mengharuskan mereka menggepeng. Terlebih lagi mereka
tidak dibekali keterampilan. Bekerja secara layak mungkin hanya impian. Cita-cita
mungkin hanya cita-cita, dalam benak semata. Namun apapun alasannya,
meminta-minta adalah pekerjaan yang dipandang hina. Agama manapun mengajarkan,
tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah artinya memberi lebih baik
daripada meminta-minta. Maka, dibutuhkan peran berbagai pihak untuk mengatasi persoalan
ini. Mari berantas kemiskinan di pulau Dewata tercinta ! (RDY)





0 komentar:
Posting Komentar